Solo Batik Carnival 2024 : Pesona Warisan Agung Mataram

RAJAMALA : Salah satu defile dalam Solo Batik Carnival 2024 yang membawakan tema kostum Rajamala.(Foto : Yudhi hartomo/rumahjurnalis)

SOLO - Ratusan kostum apik berbahan batik memenuhi jalanan Kota Solo dalam Solo Batik Carnival 2024. Pawai tahunan yang dihelat Sabtu, 13 Juli 2024 ini menjadi ajang tontonan asyik bagi warga Solo dan sekitarnya. Mereka memadati sepanjang rute karnaval yakni dari Jl. Bhayangkara, Sriwedari, Jl. Slamet Riyadi hingga Balaikota Solo di Jl. Jenderal Sudirman.

Solo Batik Carnival 2024 mengusung tema "Amerta: The Legacy of Mataram Kingdom". Tema ini dimaknai sebagai sebuah keabadian warisan Kerajaaan Mataram nan agung di Kota Surakarta. Keagungan tersebut diwujudkan dalam 4 tema kostum yakni Sekaten, Pracima Tuin, Asyura dan Rajamala. Para peserta diberi kebebasan untuk berfantasi menerjemahkan tema tersebut dan berkreasi untuk membuat kostum semenarik mungkin. Hasilnya? Mampu memukau para penonton yang tak henti mengabadikan penampilan mereka dengan kamera ponsel.

MEMUKAU : Kecantikan peserta dan kostumnya menjadi sasaran kamera ponsel para penonton di sepanjang jalan.(Foto : Yudhi Hartomo/rumahjurnalis)

WAHANA SEKATEN : Seorang peserta yang mengenakan kreasi kostum wahana permainan sekaten berinteraksi dengan bocah yang tertarik penampilannya.(Foto : Yudhi Hartomo/rumahjurnalis)

Karnaval yang dibuka oleh Wakil Walikota Solo Teguh Prakosa ini dimulai sekitar pukul 15.30 WIB dan tiba di Balaikota Solo kurang lebih pukul 17.30 WIB. Hampir semua peserta pawai masih tampil bersemangat hingga titik finish. Meski harus menahan beban kostum yang cukup berat, para peserta tetap bersedia bergaya saat dibidik kamera dan ramah melayani permintaan foto bersama dari para penonton. 

TETAP SENYUM : Meski capek berjalan dan menahan beban kostumnya, para peserta tetap sabar melayani penonton yang antusias ingin berfoto.(Foto : Yudhi Hartomo/rumahjurnalis)

Dalam sambutannya, Wawali berharap Solo Batik Carnival tak hanya merawat budaya dan sejarah, tapi juga mampu menjaga relevansi dengan masa kini. 

"Tanpa relevansi, sebuah event seni budaya akan sulit diterima oleh generasi baru,"ujarnya.

Solo Batik Carnival ke-15 ini terasa lebih semarak karena juga diikuti peserta dari Grobogan, Semarang, Wonosobo, Madiun, Tuban dan beberapa daerah lain.(Yudhi Hartomo)