Mengenal Cara Kerja Operasi Modifikasi Cuaca: Upaya BMKG Hadapi Cuaca Ekstrem

Operasi Modifikasi Cuaca : Petugas menaburkan garam penyemai awan dalam sebuah Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengurangi intensitas hujan.(Dok. BMKG)

RUMAHJURNALIS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama 24 jam non-stop di Jakarta dan sekitarnya, yang akan berlangsung hingga 20 Maret 2025. 

Langkah ini diambil setelah BMKG memprediksi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di wilayah Jabodetabek bagian Selatan pada dasarian II dan III Maret 2025. Perpanjangan OMC ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi yang dapat timbul akibat cuaca ekstrem.

Sebelumnya, pada 4-8 Maret 2025, BMKG telah melaksanakan OMC yang sukses mengurangi curah hujan ekstrem sebanyak 30-40% di wilayah Jabodetabek. Hasil tersebut menunjukkan efektivitas OMC dalam meringankan dampak banjir yang sempat melanda. 

Selama operasi, dilakukan 26 sorti penerbangan selama lebih dari 50 jam, dengan penggunaan bahan semai mencapai 22.000 kg Natrium Klorida (NaCl) dan 4.000 kg Kalsium Oksida (CaO).

Mengurangi Risiko Banjir

Plt. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa perpanjangan OMC adalah langkah preventif yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi potensi bencana, khususnya yang berkaitan dengan hujan lebat dan banjir. 

Operasi ini dilakukan dalam kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Khusus Jakarta, TNI AU, serta berpusat di Posko Lanud Halim Perdana Kusuma. 

Dwikorita menjelaskan, OMC dilakukan berdasarkan analisis data yang cermat dan pemodelan atmosfer yang tepat untuk memastikan efektivitasnya dalam mengurangi potensi bencana.

Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa fokus OMC kali ini adalah pengamanan wilayah Jabodetabek, khususnya daerah-daerah yang terdampak banjir. Salah satu strategi yang dilakukan adalah penyemaian awan di wilayah hulu untuk mengendalikan curah hujan sebelum mencapai kawasan rawan banjir. 

Selain itu, penyemaian juga dilakukan di perairan selatan Banten hingga Jawa Barat untuk memutuskan pasokan uap air yang berpotensi memasuki wilayah Bogor.

OMC juga dilaksanakan di wilayah Jawa Barat, bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan TNI AU, untuk mengurangi curah hujan yang diprediksi sangat tinggi hingga akhir Maret 2025. 

Di Jawa Barat, OMC dilaksanakan dengan cara menyemai NaCl di langit laut dan waduk untuk mempercepat turunnya hujan, sehingga dapat mengurangi intensitas hujan saat mencapai daratan. Misalnya, jika diprediksi terjadi hujan lebat di Cirebon, penyemaian dilakukan di laut agar intensitas hujan berkurang saat mencapai daratan.

Selain itu, apabila terdapat awan berpotensi hujan lebat di daratan, seperti di Bandung, penyemaian dilakukan menggunakan CaO untuk mengurangi intensitas hujan. Dengan metode ini, BMKG berhasil mengendalikan potensi hujan yang sangat lebat. 

Diperkirakan OMC dapat mengurangi curah hujan hingga 30-60%, yang berpotensi mengurangi kerusakan infrastruktur dan gangguan aktivitas masyarakat akibat banjir atau tanah longsor. (Yudhi Hartomo/rilis BMKG)