'Kemilaucintami' Inovasi Cegah Kematian Ibu-Bayi Neonatal di Puskesmas Miri

Ket:Petugas Miri Sragen rutin menggelar pertemuan yang dihadiri ibu hamil (rumahjurnalis.com/raffi arkana)


RUMAHJURNALIS.COM - Kasus Kematian ibu dan bayi dalam proses persalinan masih menjadi perhatian serius. Tak sedikit kasus kematian terjadi keduanya saat persalinan, karena adanya risiko tinggi dan kurangnya pemahaman ibu hamil.

Data di Puskesmas Miri Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada 2022 lalu terdapat satu kematian ibu dengan penyebab TB MDR (Multipurpose Tuberculosis). Lantas tahun 2023 ada satu kematian ibu dengan penyebab dehidrasi berat, HbSag positif, dan tahun 2023 ada juga satu kematian ibu nifas hari ke 7 dengan PEB, sesek. 

Sementara itu kematian bayi 2022 ada dua, penyebabnya sepsis pneumonia, prematur. Serta dua kematian bayi di tahun 2023 dengan penyebab Hisprung sepsis, aspirasi dan pada tahun 2024 ada enam kematian bayi dengan penyebab anenchepalus, cacat bawaan, prematur, febris dehidrasi, hidrochepalus. 

Bidan Puskemas Miri, Siwi Tri Padmini, S.Tr.Keb.Bdn Rabu (18/3/2026) menyampaikan, selain kematian bayi dan ibu, Puskesmas Miri memiliki permasalahan lain yaitu ada beberapa cakupan KIA yang masih rendah. Seperti cakupan kunjungan K6 ibu hamil dan kunjungan ibu nifas terutama Kf 4. 

"Kunjungan K6 tahun 2022, 74,12 persen. Kunjungan ibu nifas lengkap (Kf4) pada tahun 2022 hanya 72,45 persen," kata Siwi Tri Padmini.

Dari kasus tersebut bidan, kader kesehatan dan kader TPK desa berupaya melakukan pendekatan ke seluruh ibu hamil baik normal maupun resiko tinggi di wilayah Puskesmas Miri. Harapannya semua ibu hamil memeriksakan kehamilannya sesuai standar, baik secara kualitas 12 T maupun secara kuantitas mendapatkan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali dan dua kali ANC.

"Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, Puskesmas Miri mempunyai gagasan yang tujuannya untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi terutama Neonatus. Yakni dengan meningkatkan kunjungan ibu hamil ke Puskesmas, dan meningkatkan kunjungan ibu nifas terutama Kf4," kata bidan Siwi.

Dikatakan Siwi, inovasi tersebut diberi nama “Kemilaucintami” (Kelas Ibu Hamil Andalan Utama Cegah Kematian Ibu dan Neonatal di Miri). Sejak inovasi Kemilaucintami dilaksanakan 2024 hingga sekarang terbukti ampuh menekan kasus kematian ibu dan bayi.

"Di Puskesmas Miri tidak ada lagi kematian ibu, dan cakupan kunjungan ibu hamil terutama K6 bisa meningkat menjadi 100 persen. Kunjungan ibu nifas lengkap juga meningkat menjadi 96.08 persen," ujar Siwi.

Kemilaucintamu diklaim berbeda dengan kegiatan kelas ibu hamil yang biasa dilakukan. Inovasi kegiatan kelas ibu hamil di Puskesmas Miri di lakukan melalui kegiatan pengembangan. 

Menurut dia, inovasi ini lebih melakukan pendekatan kepada ibu hamil melalui kegiatan kunjungan rumah atau temu ibu hamil. Baik ibu hamil normal maupun ibu hamil resiko tinggi. 

Apabila ibu hamil tersebut berhalangan hadir untuk mengikuti kelas ibu hamil, Bidan bersama kader kesehatan akan melakukan komunikasi dan edukasi kepada ibu hamil terkait kehamilannya secara menyeluruh menggunakan buku KIA. Lantas memantau dan memastikan bahwa ibu hamil tersebut aktif hadir dalam pertemuan kelas ibu hamil untuk mendapat pemeriksaan rutin.

"Setiap bulan ibu hamil melaporkan hasil pemeriksaanya ke bidan pemangku wilayah, ibu hamil juga akan berinteraksi secara aktif dalam sebuah Grup WhatsApp yang juga dihandle langsung oleh petugas kesehatan," katanya.

Kemilaucintami ini lanjut Siwi, bertujuan untuk mengedukasi ibu hamil tentang pentingnya nutrisi yang seimbang dan gaya hidup sehat selama kehamilan. Lalu belajar untuk mengenali tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan persalinan, serta tindakan yang harus diambil jika mengalami kondisi tersebut.

"Kelas ini juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang cara merawat bayi baru lahir, termasuk pemberian ASI eksklusif dan imunisasi. Dengan memberikan informasi yang akurat dan dukungan emosional, kelas ini bertujuan untuk mengurangi kecemasan yang sering dialami oleh ibu hamil," katanya lagi.

Kelas ibu hamil juga untuk memfasilitasi terbentuknya jaringan dukungan antar sesama ibu hamil, yang dapat saling berbagi pengalaman dan dukungan. Kelas ini melibatkan suami atau anggota keluarga lainnya dalam proses kehamilan dan persiapan persalinan.

"Melalui kelas hamil, calon ayah dan ibu jadi lebih tahu apa kelebihan persalinan normal dan kekurangannya, jadi jauh lebih bijak menentukan persalinan yang diinginkan dan menyesuaikan kebutuhan. Meminimalisir risiko prematur dan masalah pada bayi," ucap dia.

Dengan terlaksananya “Kemilaucintami” sejak 2025 sampai sekarang di Puskesmas Miri tidak ada kematian ibu. Sedangkan untuk kematian bayi sudah ada penurunan pada tahun 2025. "Semoga untuk seterusnya tidak ada kematian bayi," tambahnya. (Sam)